Song of The Week :
1. Aku Siap Patah Hati - Shandy
2. Beda - Andity
3. Aku Kecewa - VOO
4. Sudahi Perih Ini - d'massive
5. Kamu Nyata - Roy (Boomerang)
semua yang ditulis disini adalah berupa pengalaman/cerita/informasi kehidupan pribadi/orang banyak, ada yang menghibur ada juga yang engga penting, namun tetap bisa dibaca (jika ingin) :D
Friday, 7 May 2010
Thursday, 6 May 2010
End of A in The First M
"Tuhaaaaannn..." pekik aku dalam hati sesaat setelah membaca sms menjijikkan itu. Dengan degup jatung yang sama saat aku menemukan sms datar sebulan yang lalu, dan tanpa berfikir panjang pula aku pun memberikan handphone miliknya dengan setengah memaksa agar dirinya membaca isi sms yang baru saja aku baca tersebut.
Ku perhatikan sekilas ekspresi wajahnya sebelum aku kembali ke layar televisi, wajahnya yang pucat karena baru saja bangun dari sakit menjadi semakin pucat setelah membaca sms itu. Padahal aku yakin sekali, beberapa hari sebelumnya, bukan wajah pucat yang dia pancarkan saat membaca sms itu, namun wajah memerah karena tergoda atau mungkin bangga.
DAMN
ini adalah malam penghujung bulan April, malam dimana aku berharap dia kembali sehat atas kepulangannya dari rumah sakit. sial, kenyataannya ini adalah malam terlaknat yang harus aku lalui.
Dari balik jendela kamar ini, aku hanya melihat cahaya bulan dikejauhan sana. Hanya cahaya lampu-lampu yang terpancar cerah dari gedung-gedung tinggi di hadapanku.
Ini adalah kali kedua aku mengagumi keindahan kota Jakarta di malam hari, setelah yang pertama saat aku menemaninya di rumah sakit, kini saat aku menangisi kisah dramatis nan menyakitkan dalam hidupku.
Jakarta... benar apa kata mereka, bahwa Ibu Kota Indonesia ini adalah kota yang kejam. Rasa sesal menggelitik sukmaku, mengingatkanku bahwa kejujuran adalah dosa termanis.
Di awal bulan Mei ini aku menangisi kejujuranku.
10 bulan yang lalu, aku jujur bahwa rasa yang aku miliki untuknya adalah rasa suka biasa yang mungkin hanya terbawa emosi sementara. Beberapa bulan kemudian, aku jujur bahwa rasa yang aku miliki untuknya mulai tumbuh dan tumbuh. Hingga akhirnya aku benar-benar jujur bahwa hanya ada dia dalam hati, pikiran, dan hidupku.
Dan itu adalah kesalahan.
Rasaku padanyalah yang membuat kejujuran itu hadir, jika saja saat itu aku menahan rasaku, aku rasa kini, malam ini, aku tidak akan berada disini, menangis mengutuknya yang sudah memperdayaku.
Seminggu sudah berlalu, aku lebih baik dari sebelumnya, meskipun kata 'baik' disini tidak menghapus apapun juga. Ya, seminggu sudah berlalu, dan ini semua berkat teman-teman yang setia menemani, wajah-wajah menjijikkan yang hanya berupa bayangan dalam mimpi, cibiran cewek-cewek penggoda itu, tawa bangga dirinya, film-film cengeng yang diputar salah satu stasiun televisi, lagu-lagu menyindir milik d'massive, Rini idol, dan she, sampai gelapnya kamarku. Aku rasa ada campur tangan malaikat penggoda untuk dua hari terakhir ini, karena meski gelap hawanya melelapkan tidurku, menenangkan hatiku, hingga tawapun mengudara.
Nothing works like you! Kamu yang aku sayangi dan yang menyakitiku, dan kamu juga yang buat aku tertawa disela-sela sakit ini.
Dan hari ini, dimana aku sedang menikmati kembali film-film cengeng yang diputar oleh salah satu stasiun televisi swasta, aku menemukan dua pepatah yang menjadi dialog dalam adegan film tersebut. Tokoh perempuan bernama Reva memberikan pepatah ini kepada mantannya, "perempuan bukan diciptakan dari tulang kaki, yang bisa seenaknya dibuat sakit hati oleh laki-laki dan juga bukan diciptakan dari tulang kepala sehingga bisa semena-mena kepada laki-laki, tapi diciptakan dari tulang rusuk karena dekat dihati untuk dicintai dan dekat dilengan karena untuk dilindungi".
Pepatah itu klasik, tapi untuk saat ini benar-benar membantuku untuk lebih membuka pikiranku menjadi lebih luas dari sebelumnya. Ya, hatiku sakit karena pengkhianatan ini, tapi aku harus kuat. Aku diciptakan untuk dicintai dan dilindungi, dan aku percaya itu. Karena semua sakit ini adalah obat berisi racun yang baik untuk tulangku; untuk kekuatannya dan untuk fungsinya.
Dan sesakit apapun rasanya, toh aku tetap harus melanjutkan hidupku. Dengan atau tanpanya aku tetap hidup dan tetap dalam rasa sakit itu. Tinggal waktu dan bukti penyesalannya yang akan membuat rasa sakit ini hilang, meski dalam kenyataannya cerita ini adalah kenyataan yang menyakitkan.
Ku perhatikan sekilas ekspresi wajahnya sebelum aku kembali ke layar televisi, wajahnya yang pucat karena baru saja bangun dari sakit menjadi semakin pucat setelah membaca sms itu. Padahal aku yakin sekali, beberapa hari sebelumnya, bukan wajah pucat yang dia pancarkan saat membaca sms itu, namun wajah memerah karena tergoda atau mungkin bangga.
DAMN
ini adalah malam penghujung bulan April, malam dimana aku berharap dia kembali sehat atas kepulangannya dari rumah sakit. sial, kenyataannya ini adalah malam terlaknat yang harus aku lalui.
Dari balik jendela kamar ini, aku hanya melihat cahaya bulan dikejauhan sana. Hanya cahaya lampu-lampu yang terpancar cerah dari gedung-gedung tinggi di hadapanku.
Ini adalah kali kedua aku mengagumi keindahan kota Jakarta di malam hari, setelah yang pertama saat aku menemaninya di rumah sakit, kini saat aku menangisi kisah dramatis nan menyakitkan dalam hidupku.
Jakarta... benar apa kata mereka, bahwa Ibu Kota Indonesia ini adalah kota yang kejam. Rasa sesal menggelitik sukmaku, mengingatkanku bahwa kejujuran adalah dosa termanis.
Di awal bulan Mei ini aku menangisi kejujuranku.
10 bulan yang lalu, aku jujur bahwa rasa yang aku miliki untuknya adalah rasa suka biasa yang mungkin hanya terbawa emosi sementara. Beberapa bulan kemudian, aku jujur bahwa rasa yang aku miliki untuknya mulai tumbuh dan tumbuh. Hingga akhirnya aku benar-benar jujur bahwa hanya ada dia dalam hati, pikiran, dan hidupku.
Dan itu adalah kesalahan.
Rasaku padanyalah yang membuat kejujuran itu hadir, jika saja saat itu aku menahan rasaku, aku rasa kini, malam ini, aku tidak akan berada disini, menangis mengutuknya yang sudah memperdayaku.
Seminggu sudah berlalu, aku lebih baik dari sebelumnya, meskipun kata 'baik' disini tidak menghapus apapun juga. Ya, seminggu sudah berlalu, dan ini semua berkat teman-teman yang setia menemani, wajah-wajah menjijikkan yang hanya berupa bayangan dalam mimpi, cibiran cewek-cewek penggoda itu, tawa bangga dirinya, film-film cengeng yang diputar salah satu stasiun televisi, lagu-lagu menyindir milik d'massive, Rini idol, dan she, sampai gelapnya kamarku. Aku rasa ada campur tangan malaikat penggoda untuk dua hari terakhir ini, karena meski gelap hawanya melelapkan tidurku, menenangkan hatiku, hingga tawapun mengudara.
Nothing works like you! Kamu yang aku sayangi dan yang menyakitiku, dan kamu juga yang buat aku tertawa disela-sela sakit ini.
Dan hari ini, dimana aku sedang menikmati kembali film-film cengeng yang diputar oleh salah satu stasiun televisi swasta, aku menemukan dua pepatah yang menjadi dialog dalam adegan film tersebut. Tokoh perempuan bernama Reva memberikan pepatah ini kepada mantannya, "perempuan bukan diciptakan dari tulang kaki, yang bisa seenaknya dibuat sakit hati oleh laki-laki dan juga bukan diciptakan dari tulang kepala sehingga bisa semena-mena kepada laki-laki, tapi diciptakan dari tulang rusuk karena dekat dihati untuk dicintai dan dekat dilengan karena untuk dilindungi".
Pepatah itu klasik, tapi untuk saat ini benar-benar membantuku untuk lebih membuka pikiranku menjadi lebih luas dari sebelumnya. Ya, hatiku sakit karena pengkhianatan ini, tapi aku harus kuat. Aku diciptakan untuk dicintai dan dilindungi, dan aku percaya itu. Karena semua sakit ini adalah obat berisi racun yang baik untuk tulangku; untuk kekuatannya dan untuk fungsinya.
Monday, 12 April 2010
Beda - Andity
Ku ingin bertanya
Sungguhkah kau sayang aku
Kadang aku pun meragu
Engkau tampak beda
Tak seperti dulu
Mungkin waktu yang tlah mengubah
Kenyataan atau mimpikah diriku dengan
Semua ini meski ku tak berubah
Hanya kau yang menyita seluruh hatiku
Disini
Ku tak pernah berpikir
Ada yang lain dihatimu
Tapi bila
Begitu adanya
Jangan kau membisu
Ungkapkan padaku
Mungkin waktu yang tlah mengubah
Kenyataan atau mimpikah diriku dengan
Semua ini meski ku tak berubah
Hanya kau yang menyita seluruh hatiku
Disini
Takkan ada yang mampu
Sungguhkah kau sayang aku
Kadang aku pun meragu
Engkau tampak beda
Tak seperti dulu
Mungkin waktu yang tlah mengubah
Kenyataan atau mimpikah diriku dengan
Semua ini meski ku tak berubah
Hanya kau yang menyita seluruh hatiku
Disini
Ku tak pernah berpikir
Ada yang lain dihatimu
Tapi bila
Begitu adanya
Jangan kau membisu
Ungkapkan padaku
Mungkin waktu yang tlah mengubah
Kenyataan atau mimpikah diriku dengan
Semua ini meski ku tak berubah
Hanya kau yang menyita seluruh hatiku
Disini
Takkan ada yang mampu
Menggantikan satu dirimu
Sunday, 14 March 2010
. . bukan manusia sempurna
Ada dua hal yang buat aku takut. Teramat sangat aku takuti. Hal pertama adalah membuat kesalahan besar dan berakhir dilaknat oleh-Nya. Kedua adalah menyakiti orang yang aku sayang. . Ya… aku rasa semua orang takut akan hal yang pertama aku sebutkan tadi. Sedangkan untuk hal yang kedua, hm… aku rasa semua orang juga sama denganku. Hahaha..
Anyway… Untuk hal ‘takut menyakiti orang yang aku sayang’ itu punya arti yang universal, karena arti dari kata sayang itu sendiri bermakna ganda. Bisa untuk siapa saja. Aku takut menyakiti orangtuaku, keluargaku, teman-temanku, atau pacarku. Umumnya bagi siapapun yang berkomunikasi, berhubungan, dan memiliki keterikatan denganku. Baik itu secara profesional ataupun pribadi.
Bagiku menyakiti seseorang sama halnya menyakiti diri sendiri, apalagi jika orang yang kita sakiti adalah orang yang kita sayangi. Sayangnya, aku tidak pernah tidak menyakiti orang yang aku sayangi. Ya, bukan sekali aku pernah menyakiti seseorang.
Hidup itu memang tidak mudah. Kita selalu dihadapkan pada dua pilihan. Bertahan atau menyerah. Maju atau mundur. Kaya atau miskin. Pintar atau bodoh. Dan lain sebagainya.
Dan kini, saat aku ditakutkan pada hal ‘menyakiti seseorang’, tetap saja dua pilihan hadir didalamnya. Menyakiti atau disakiti.
Pada awal mulanya aku selalu memilih untuk disakiti, karena itu akan lebih mudah bagiku untuk mulai melupakannya (dibaca: membenci orang yang menyakitiku). Seiringnya waktu, ternyata aku menyakiti seseorang. Bisa dari sikapku atau tutur kataku. Baik disengaja mau pun tidak disengaja. Menyakitkankah bagiku? Tentu saja. Menyakiti, bagiku, lebih menyakitkan dari disakiti. Mengapa? Karena sisa dari sebuah penyesalan telah menyakiti adalah rasa bersalah. Dan rasa bersalah itu tidak akan pernah hilang meskipun sebuah kata ‘maaf’ sudah menggelontor keluar dari mulut dan bahkan kata ‘dimaafkan’ pun diberikan.
Manusia memang tidak ada yang sempurna. Aku menyakininya. Tapi apakah setiap manusia tidak pernah menuntut sebuah kesempurnaan? Aku rasa munafik jika kita berkata ‘aku tidak menuntut kesempurnaan’. Mengapa? Karena kita adalah makhluk sosial, pendapat seseorang adalah tuntunan kita untuk maju. Pada saat pendapat itu berupa kritik, maka kita akan memperbaikinya, dan jika pendapat itu sebuah pujian, maka kita akan berusaha untuk lebih baik lagi. Bukankah itu proses untuk menjadi sempurna? Ya… walaupun hasil akhirnya sudah kita ketahui. Bahwa tidak ada manusia yang sempurna.
Terus apa hubungannya dengan ketakutan untuk menyakiti atau pilihan untuk disakiti? Jelas ada. Karena aku bukan makhluk sempurna. Aku memiliki kekurangan, kelemahan, atau keterbatasan dalam beberapa hal. Dan salah satu faktor yang membuat terjadinya proses ‘menyakiti’ atau ‘disakiti’ adalah kekurangan, kelemahan, atau keterbatasan yang aku miliki.
Bukan berarti kekurangan, kelemahan, atau keterbatasan itu tidak memiliki tempat yang sejajar dengan suatu keberhasilan seseorang. Tidak. Ada kalanya seseorang sukses karena kekurangan, kelemahan, atau keterbatasannya. Atau kebalikannya, sebuah kelebihan seseorang bisa saja menyakiti atau tersakiti olehnya.
Yah… karena ini mengenai diriku, maka hal yang membuatku ‘menyakiti’ atau ‘disakiti’ tidak lain karena kelemahan, kekurangan, atau keterbatasanku dalam hal memahami seseorang. Ditambah lagi dengan sikapku yang ‘tidak sabaran’ , ‘kurang pengertian’, dan ‘sulit mempercayai seseorang’ semakin membuat aku merasa bahwa hal tersebut adalah faktor utamanya.
Lalu bagaimana faktor-faktor penyebab ‘menyakiti’ atau ‘disakiti’ tersebut hilang? Aku masih mencarinya. Dan tentu dengan sedikit usaha dan doa aku mulai memperbaikinya. Walaupun belum ada hasil yang bisa dibilang ‘terlihat’.
Apa yang harus dilakukan agar hal ‘menyakiti’ atau ‘disakiti’ tidak terulang? Introspeksi diri dan mulai memperbaikinya.
Bukankah itu butuh proses? Dan terkadang proses itu membutuhkan waktu lama. Apa cara efektif yang bisa dilakukan agar hal ‘menyakiti’ dan ‘disakiti’ tidak terulang? Hm… mari kita merenung sejenak. Pikirkan secara perlahan dan baik-baik. Dan jika sudah mendapatkan jawabannya, beritahu aku secepatnya :D
…
Kemarin v dapat kebar salah seorang guru pensiunan di sekolah v meninggal. Beberapa hari sebelumnya dia curhat pada salah seorang guru: “ada yang sakit hati sama saya karena ucapan saya. Sampai sekarang dia sakit hati. Saya sudah minta maaf tapi beliau sepertinya nggak maafin, soalnya setiap ketemu saya dia acuh. Makanya saya minta maaf yah kalau saya salah… kalau kata-kata saya nyakitin, ya saya memang begini adanya, bukan maksud sengaja kalau bicara kasar” (kata-katanya mungkin nggak sama 100% tapi kurang lebih begitu). Dan hampir ke semua guru beliau bilang seperti itu sebelum kemudian kemarin tanggal 10 Maret 2010 beliau meninggal dunia akibat kecelakan motor di jalan Cikutra. Innalillahi wa inna’illaihirojiun…
Bukan maksud apa-apa v cerita soal almarhumah, tapi v cuma mau berbagi aja kalau umur itu teramat sangat nggak bisa diduga. Dan karenanya, meminta maaf untuk segala sesuatunya (apalagi kesalahan yang sengaja kita perbuat) perlu banget. JADI… Buat yang pernah v sakiti, maaf yah… huhuhu~ mau itu yang disengaja atau nggak pokoknya maafin v yah… ^-^
Anyway… Untuk hal ‘takut menyakiti orang yang aku sayang’ itu punya arti yang universal, karena arti dari kata sayang itu sendiri bermakna ganda. Bisa untuk siapa saja. Aku takut menyakiti orangtuaku, keluargaku, teman-temanku, atau pacarku. Umumnya bagi siapapun yang berkomunikasi, berhubungan, dan memiliki keterikatan denganku. Baik itu secara profesional ataupun pribadi.
Bagiku menyakiti seseorang sama halnya menyakiti diri sendiri, apalagi jika orang yang kita sakiti adalah orang yang kita sayangi. Sayangnya, aku tidak pernah tidak menyakiti orang yang aku sayangi. Ya, bukan sekali aku pernah menyakiti seseorang.
Hidup itu memang tidak mudah. Kita selalu dihadapkan pada dua pilihan. Bertahan atau menyerah. Maju atau mundur. Kaya atau miskin. Pintar atau bodoh. Dan lain sebagainya.
Dan kini, saat aku ditakutkan pada hal ‘menyakiti seseorang’, tetap saja dua pilihan hadir didalamnya. Menyakiti atau disakiti.
Pada awal mulanya aku selalu memilih untuk disakiti, karena itu akan lebih mudah bagiku untuk mulai melupakannya (dibaca: membenci orang yang menyakitiku). Seiringnya waktu, ternyata aku menyakiti seseorang. Bisa dari sikapku atau tutur kataku. Baik disengaja mau pun tidak disengaja. Menyakitkankah bagiku? Tentu saja. Menyakiti, bagiku, lebih menyakitkan dari disakiti. Mengapa? Karena sisa dari sebuah penyesalan telah menyakiti adalah rasa bersalah. Dan rasa bersalah itu tidak akan pernah hilang meskipun sebuah kata ‘maaf’ sudah menggelontor keluar dari mulut dan bahkan kata ‘dimaafkan’ pun diberikan.
Manusia memang tidak ada yang sempurna. Aku menyakininya. Tapi apakah setiap manusia tidak pernah menuntut sebuah kesempurnaan? Aku rasa munafik jika kita berkata ‘aku tidak menuntut kesempurnaan’. Mengapa? Karena kita adalah makhluk sosial, pendapat seseorang adalah tuntunan kita untuk maju. Pada saat pendapat itu berupa kritik, maka kita akan memperbaikinya, dan jika pendapat itu sebuah pujian, maka kita akan berusaha untuk lebih baik lagi. Bukankah itu proses untuk menjadi sempurna? Ya… walaupun hasil akhirnya sudah kita ketahui. Bahwa tidak ada manusia yang sempurna.
Terus apa hubungannya dengan ketakutan untuk menyakiti atau pilihan untuk disakiti? Jelas ada. Karena aku bukan makhluk sempurna. Aku memiliki kekurangan, kelemahan, atau keterbatasan dalam beberapa hal. Dan salah satu faktor yang membuat terjadinya proses ‘menyakiti’ atau ‘disakiti’ adalah kekurangan, kelemahan, atau keterbatasan yang aku miliki.
Bukan berarti kekurangan, kelemahan, atau keterbatasan itu tidak memiliki tempat yang sejajar dengan suatu keberhasilan seseorang. Tidak. Ada kalanya seseorang sukses karena kekurangan, kelemahan, atau keterbatasannya. Atau kebalikannya, sebuah kelebihan seseorang bisa saja menyakiti atau tersakiti olehnya.
Yah… karena ini mengenai diriku, maka hal yang membuatku ‘menyakiti’ atau ‘disakiti’ tidak lain karena kelemahan, kekurangan, atau keterbatasanku dalam hal memahami seseorang. Ditambah lagi dengan sikapku yang ‘tidak sabaran’ , ‘kurang pengertian’, dan ‘sulit mempercayai seseorang’ semakin membuat aku merasa bahwa hal tersebut adalah faktor utamanya.
Lalu bagaimana faktor-faktor penyebab ‘menyakiti’ atau ‘disakiti’ tersebut hilang? Aku masih mencarinya. Dan tentu dengan sedikit usaha dan doa aku mulai memperbaikinya. Walaupun belum ada hasil yang bisa dibilang ‘terlihat’.
Apa yang harus dilakukan agar hal ‘menyakiti’ atau ‘disakiti’ tidak terulang? Introspeksi diri dan mulai memperbaikinya.
Bukankah itu butuh proses? Dan terkadang proses itu membutuhkan waktu lama. Apa cara efektif yang bisa dilakukan agar hal ‘menyakiti’ dan ‘disakiti’ tidak terulang? Hm… mari kita merenung sejenak. Pikirkan secara perlahan dan baik-baik. Dan jika sudah mendapatkan jawabannya, beritahu aku secepatnya :D
…
Kemarin v dapat kebar salah seorang guru pensiunan di sekolah v meninggal. Beberapa hari sebelumnya dia curhat pada salah seorang guru: “ada yang sakit hati sama saya karena ucapan saya. Sampai sekarang dia sakit hati. Saya sudah minta maaf tapi beliau sepertinya nggak maafin, soalnya setiap ketemu saya dia acuh. Makanya saya minta maaf yah kalau saya salah… kalau kata-kata saya nyakitin, ya saya memang begini adanya, bukan maksud sengaja kalau bicara kasar” (kata-katanya mungkin nggak sama 100% tapi kurang lebih begitu). Dan hampir ke semua guru beliau bilang seperti itu sebelum kemudian kemarin tanggal 10 Maret 2010 beliau meninggal dunia akibat kecelakan motor di jalan Cikutra. Innalillahi wa inna’illaihirojiun…
Bukan maksud apa-apa v cerita soal almarhumah, tapi v cuma mau berbagi aja kalau umur itu teramat sangat nggak bisa diduga. Dan karenanya, meminta maaf untuk segala sesuatunya (apalagi kesalahan yang sengaja kita perbuat) perlu banget. JADI… Buat yang pernah v sakiti, maaf yah… huhuhu~ mau itu yang disengaja atau nggak pokoknya maafin v yah… ^-^
Friday, 19 February 2010
KOSONG
Oukey... ini adalah hari ke lima dari sakit yang nggak kunjung surut ini! Cermin pun udah nggak mau nampakin bayangan v, saking menyeramkannya! Rambut rawig, mata celong, bibir keriput, muka kusam, etc... semuanya menggambarkan seorang mak lampir tercantik yang pernah ada di alam gaib. well... tapi v bukan mak lampir, cuma untuk beberapa hari ini-akibat terkulai lemas tak berdaya di tempat tidur, semuanya berubah menjadi kelam. oukey... hapus kata-kata v yang terakhir. itu terlalu berlebihan. DAN pastinya BOHONG!!
v sakit? iya... sakit hati ini. (makin BOHONG)
pusing! itu yang pastinya!! pusing ini bener-bener susah ilangnya. baru kali ini aja bisa duduk berjam-jam depan layar c leppy tanpa merubah posisi jadi tengkurep dan lendean di bantal. NO! hari ini v jauh lebih baik dari kemarin! ya... walaupun, untuk yang kelima kalinya (kalau dihitung dari hari kemaren) jatuh gara-gara pusing. but it's okey... itu sih efek dari kebanyakan tidur, kurang menggerakkan tubuh, dan mata kunang-kunang akibat kebanyakan nonton FTV. hehe..
ngomongin soal FTV, koq makin hari ceritanya makin mirip satu sama lain yah? apa memang dilema, masalah, konflik hidup itu cuma gitu-gitu aja? :-?
nggak tahu juga sih.. yang pasti mungkin karena cerita seperti itu yang digemari oleh para konsumen film televisi.
pointless banget yah post-nya? hahahhaa... XD
v sakit? iya... sakit hati ini. (makin BOHONG)
pusing! itu yang pastinya!! pusing ini bener-bener susah ilangnya. baru kali ini aja bisa duduk berjam-jam depan layar c leppy tanpa merubah posisi jadi tengkurep dan lendean di bantal. NO! hari ini v jauh lebih baik dari kemarin! ya... walaupun, untuk yang kelima kalinya (kalau dihitung dari hari kemaren) jatuh gara-gara pusing. but it's okey... itu sih efek dari kebanyakan tidur, kurang menggerakkan tubuh, dan mata kunang-kunang akibat kebanyakan nonton FTV. hehe..
ngomongin soal FTV, koq makin hari ceritanya makin mirip satu sama lain yah? apa memang dilema, masalah, konflik hidup itu cuma gitu-gitu aja? :-?
nggak tahu juga sih.. yang pasti mungkin karena cerita seperti itu yang digemari oleh para konsumen film televisi.
pointless banget yah post-nya? hahahhaa... XD
Subscribe to:
Posts (Atom)