Friday, 25 November 2016

사랑에 미치다! (Crazy in Love) Part 1.1


Blitz lampu dari ratusan kamera menghadang Kang-Jae yang akan masuk ke dalam mobilnya. Ia baru saja selesai menghadiri acara penghargaan dan menjadi salah satu dari penerima penghargaan itu. Karenanya ratusan wartawan sudah menunggunya dan dan para selebriti lainnya keluar dari gedung terbesar di Busan itu.

Dengan ketampanan dan karismanya ia menolak wartawan yang berebut bertanya padanya dengan sopan.
"Kang-Jae, tolong ungkapkan perasaanmu!" Teriak salah satu wartawan.
"Tentu saja senang." Jawab Kang-Jae santai.
"Menurutmu apakah memang kamu pantas mendapatkan penghargaan ini?" Tanya wartawan lainnya.
"Lusa. Lusa kita bertemu lagi. Maaf. Sungguh maaf, hari ini aku harus melanjutkan perjalananku." Ucap Kang-Jae pada para wartawan. "Selamat malam semuanya." Salamnya setelah ia masuk ke dalam mobil sembari melambaikan tangannya pada para wartawan yang merasa kecewa.
Kang-Jae menghempaskan tubuhnya di kursi penumpang, membuka jas hitamnya, lalu memeriksa ponsel genggamnya.
"Hari ini kamu luar biasa! Luar biasa menawan! Kontrak iklan pun langsung banjir saat mereka selesai mengumumkan kamu pemenangnya!" Seru sang manager, Lee Hyun-Bong.
"Hyung, apa ibuku tidak meneleponmu?" Tanya Kang-Jae tidak memperdulikan seruan Lee Hyun-Bong.
"Tidak." Jawab Lee Hyun-Bong cepat. "Memangnya Nonya Jung bilang akan menelponmu?"
Kang-Jae mengacuhkan pertanyaan Lee Hyun-Bong dengan pertanyaan lainnya. "Apa kita tidak bisa ke Seoul malam ini, Hyung?"
"Maaf. Tidak bisa. Kita baru akan berangkat besok pagi. Pukul 7.30 kita sampai Seoul."
"Baiklah." Ucap Kang-Jae lirih. "Apa kita bisa mampir dulu ke apartemen ibuku sesampainya di Seoul?"
"Tentu. Kenapa tidak. Jadwalmu besok pukul empat sore. Itu pun hanya acara radio dan pengambilan gambar untuk iklan mobil Jia." Jawab Lee Hyun-Bong cepat. "Tapi kenapa?"
"Tidak ada apa-apa. Hanya ingin melihatnya."
"Aigoo, dasar kau anak manja!" Ledek Lee Hyun-Bong, sembari menolehkan badannya kebelakang, karena ia duduk di sebelah supir. "Bawakan buah kesukaan Nyonya Jung sekalian. Akan aku belikan di supermarket terdekat. Kamu bisa menungguku di coffee shop."
"Thank's, Hyung...".
"Tapi sungguh tidak ada apa-apa kan?"
Kang-Jae tidak menjawab. "Kim hwang-Jae?" Panggil Lee Hyung-Bong dengan nama asli Kang-Jae.
"Hyung... dua hari ini aku bermimpi yang sama." Ucap Kang-Jae kemudian. "Aku kehabisan nafas. Saat itu muncul wajah ibu tapi dia menghilang. Firasatku tak enak, Hyung."
Kang-Jae menunggu Lee Hyun-Bong di Coffee Shop tanpa penyamaran. Hasilnya beberapa pelayan dan pelanggan Coffee Shop langsung menyerbunya dengan permintaan foto dan tandatangan.
Penghargaan artis pria pendatang baru terbaik di Busan kemarin telah mengubah segalanya dalam hitungan jam.
Kemarin ia masih bisa leluasa membeli kopi di Coffee Shop, tanpa harus takut dikerubuti penggemar. Tapi lain dengan hari ini. Baru sampai di bandara pun sudah banyak penggemar yang menghadangnya untuk berfoto.
"Maaf. Maaf kami permisi dulu. Sampai jumpa. Terima kasih semuanya." Lee Hyun-Bong berusaha mengeluarkan Kang-Jae dari para penggemar yang berebut foto dengannya. "Kau masuk duluan. Aku harus kembali ke toko untuk membeli topi dan masker. Mulai hari ini hidupmu berubah."
Maka Kang-Jae pun masuk lift sendiri, hanya ditemani sebotol air mineral dan sekantong penuh jeruk dan apel tanpa ditemani Lee Hyun-Bong.
"Aku akan menyusul."
"Ya."
Saat hendak menekan tombol tutup pada lift, terdengar teriakan dari luar.
"Tunggu. Tunggu. Aku naik lift juga."
Lee Hyun-Bong melangkah menghindari seorang gadis yang terburu-buru akan masuk lift.
"Terimakasih." Ucap gadis itu pada Kang-Jae. "Aku lantai tujuh, please." Sambung gadis itu.
Lee Hyun-Bong mengamati gadis itu. Ia takut kalau gadis itu adalah salah satu penggemar Kang-Jae yang berarti ia harus mengantar Kang-Jae ke atas.
Kang-Jae memerhatikan gadis disebelahnya  yang bagi mata Kang-Jae terlihat manis namun berantakan.
"Kau tidak akan menutup lift ini?"
Lee Hyun-Bong dan Kang-Jae bertatapan.
"Kalau kalian masih ingin bersama, ayo naik!"
"Pergilah." Ucap Lee Hyun-Bong merasa aman.

Wednesday, 28 October 2015

Hijab From Korea (SATU)

"Sekarang? Ini sudah hampir jam sepuluh malam... Ya, baiklah. Aku usahakan kurang dari satu jam sampai di rumah... Mm, eomeoni. Aku mengerti."
Joong-Ki menengadahkan kepalanya ke atas sembari memejamkan matanya setelah ia menyudahi percakapan dengan ibunya lewat telepon. Ia menghembuskan nafasnya dengan berat. Ia merasa hari ini begitu melelahkan. Tentu bukan karena ia menerima panggilan telepon dari ibunya, melainkan pekerjaannya yang memaksanya untuk bekerja tanpa sempat istirahat sedetik pun.
joong-Ki kembali mengembuskan nafasnya dengan berat. Kali ini lebih panjang.
"Ada masalah apa?" Tanya seseorang, yang tidak lain adalah sahabatnya Lee Min-Woo
Tanpa perlu membuka matanya Joong-Ki sudah tahu siapa yang bertanya, "tidak ada apa-apa."
"Aku tahu dirimu. Posisi duduk seperti itu artinya kau punya masalah" sanggah Lee Min-Woo.
"Kang Se-Won menolak proposal kita." Kata Joong-Ki kemudian.
Lee Min-Woo membuka mulutnya sedikit lebar, pertanda ia kaget. "Lagi?" Lee Min-Woo mendengus kasar, "kali ini apa?" Tanyanya sedikit berang. 
Joong-Ki tak bergeming. Sedangkan Lee Min-Woo sibuk mengutuk atasan mereka, Kang Se-Won.
"Kalau bukan karena dia anak Direktur Utama, oh tidak, bukan. Kalau bukan karena dia seorang perempuan, sudah aku hajar dia." Geram Lee Min-Woo. "Apa sih maunya?"
Bukannya menjawab pertanyaan Lee Min-Woo, Joong-Ki bangun dari duduknya dan mengambil jasnya.
"Sebaiknya kau juga pulang." Katanya kemudian sesaat sebelum melewati Lee Min-Woo, sembari menepuk halus pundak Lee Min-Woo. 
"Hey!" Teriak Lee Min-Woo kesal.
"Sampai jumpa besok." Joong-Ki menyela Lee Min-Woo dan langsung menutup pintu ruang kerjanya. Sekali lagi ia menghembuskan nafas panjang sebelum ia memijit tombol lift.
Ini bukan pertama kalinya proposal timnya di tolak Kang Se-Won, tapi hari ini ia merasa pekerjaan dirinya dan tim benar-benar tidak dihargai oleh Kang Se-Won. Proposal yang ia buat bersama timnya sudah benar-benar menguras tenaga, pikiran, dan waktu. Bahkan ia dan timnya musti lembur hingga menginap di kantor dua hari berturut-turut, namun tanpa membuka sedikit pun map biru yang berisi proposal, Kang Se-Won menolaknya.
Ting. Pintu lift terbuka. Memaksa Joong-Ki menghentikan rasa kesalnya untuk berganti menjadi rasa waspada.
"Tidak akan masuk?" Tanya Kang Se-Won.
Tanpa berkata apa-apa Joong-Ki melangkahkan kakinya dengan berat untuk masuk ke dalam lift. Berat karena penyebab kegundahannya tepat berdiri di depannya. Dia merasa malas memikirkan harus berada dalam satu lift bersama Kang Se-Won meski tidak lebih dari tiga menit.
"Tunggu!" Teriak seseorang, dan mencoba menahan pintu lift yang hampir tertutup.
Ho, kau memang sahabatku, Min-Woo. Batin Joong-Ki saat tahu siapa yang menahan pintu lift.
Lee Min-Woo melirik ke kanan pada Kang Se-Woo yang sedang asyik dengan telepon genggamnya dan kemudian melirik ke kiri pada Joong-Ki yang hanya berdiri tegap menghadap pintu lift. 
"Rasanya lift ini tidak bergerak." Ucap Lee Min-Woo tanpa bermaksud bicara pada siapa pun.
"Kenapa tidak kau keluar saja, kemudian turun lewat pintu darurat." Saran Kang Se-Won sinis.
"Eh?" Pekik Lee Min-Woo antara tak percaya dan sebal. Lee Min-Woo sudah membuka mulutnya, tapi tak lama pintu lift pun terbuka. Lee Min-Woo menggeser tubuhnya ke sisi Joong-Ki agar Kang Se-Won dapat keluar dari lift duluan. "Sampai jumpa." Kata Lee Min-Woo sembari sedikit membungkukkan badannya pada Kang Se-Won. "Aku benci dia." Sedetik setelah Kang Se-Won benar-benar meninggalkan mereka. "Ja! Sebaiknya kita pergi minum. Bagaimana?" Sambungnya pada Joong-Ki.
"Aku sudah ditunggu ibuku." Jawab Joong-Ki datar, memberi alasan.
"Ayolah. Kau pikir aku bodoh? Kau bukan anak sekolah. Kenapa ibumu harus menunggumu? Kau bahkan tinggal di apartemenmu sendiri." 
Joong-Ki tersenyum kecut mendengar ocehan Lee Min-Woo. Ya, siapa yang akan percaya padanya, pria berusia tiga puluh tahun yang sudah tinggal sendiri selama tiga tahun tiba-tiba menolak ajakan temannya untuk minum dengan alasan ibunya menunggu.
"Aku serius. Aku harus ke rumah orangtuaku. Mereka menungguku."
"Sekarang?" Tanya Lee Min-Woo tak percaya. Ia melirik jam tangannya. "Ini sudah jam sepuluh lewat." 
"Aku tahu." Jawab Joong-Ki singkat. "Ya, sampai jumpa besok." Sapa Joong-Ki sembari mulai berjalan ke arah yang berlawanan dengan Lee Min-Wo.
Sedikit mengebut Joong-Ki mengendarai mobilnya melintasi jalanan. Seoul di malam hari memang indah. Gelapnya malam yang dicahayai kerlap-kerlipnya lampu dari setiap gedung dan papan iklan di sepanjang jalan yang membuatnya indah. Karena itu lah iya memutuskan bekerja di perusahaan iklan dan beruntungnya ia diterima di perusahaan iklan terbaik di Seoul.
Namun kini ia tahu persis, bekerja di perusahaan iklan tidaklah seindah papan-papan iklan itu. Butuh proses yang panjang dan rumit untuk menghasilkan satu iklan yang luar biasa dari segala sisi. Setiap hari Joong-Ki dan timnya melakukan pertemuan perencanaan, membuat konsep iklan, mengatur proposal, mengajukan, pembuatan iklan, editing, dan lainnya. Pekerjaannya benar-benar pekerjaan yang membutuhkan mental baja. Pekerjaan yang penuh dengan tekanan.
"Joong-Ki, masuklah, Nak." Ujar seseorang dari intercom yang tidak lain adalah ibunya.
Hampir sebulan ia belum mengunjungi rumah orangtuanya ini. Ya, belum sebulan, tapi ia merasa sangat rindu dengan hangatnya rumah dan orangtuanya.
"Kamu terlihat lelah sekali, Nak." Ucap ibu Joong-Ki lirih. "Maaf kami memanggilmu tiba-tiba."
Joong-Ki tersenyum lembut sembari meremas halus jemari kanan ibunya. Ia sudah terlihat semakin tua. Tahun ini ia berusia 63 tahun.
Siapa pun yang melihat ibu Joong-Ki mereka tahu pasti, bahwa ibu Joong-Ki bukan lah orang Korea. Ya, iya orang Indonesia.
Maya Karmila atau Jung Soo-Hye adalah nama ibu Joong-Ki. Bertahun-tahun yang lalu, ia mendapat tugas dari universitas ia bekerja untuk mengajar di Universitas Seoul.
Seperti cerita cinta lainnya, Maya bertemu dengan Park Young-Chul. Mereka jatuh cinta dan kemudian menikah. Sepuluh bulan kemudian lahirlah Joong-Ki.
Joong-Ki dan pekerjaannya lah yang membuat Maya, ibu Joong-Ki memilih untuk menetap di Korea Selatan, meski sebetulnya ia memiliki seorang anak perempuan dari pernikahan sebelumnya di Indonesia.
"Aku harap kau mengerti. Toh ini semua demi kakakmu." Ucap ayah Joong-Ki dengan intonasi yang lembut namun tegas.
Bagi Joong-Ki perkataan Ayahnya seperti bom yang siap meledak jika Joong-Ki menolak permintaan Ayahnya.
"Apa Amirra nuna hamil?" Tanya Joong-Ki to the point.
"Tentu tidak!" Sanggah ibu Joong-Ki.
"Lalu kenapa tiba-tiba menikah?" 
Tiba-tiba. Begitulah yang dirasakan Joong-Ki. Tiba-tiba orangtuanya meminta ia datang malam itu juga, tiba-tiba mereka memberitahukan bahwa kakak tirinya akan menikah, dan tiba-tiba ayahnya menegaskan bahwa ia harus ikut ke Indonesia besok malam.
"Walaupun tak ada hubungannya dengan kita, tapi kakakmu membutuhkan kita untuk bertemu dengan walinya lusa." Jawab Ibu Joong-Ki tanpa membuat Joong-Ki menjadi mengerti.
"Itu dia. Pernikahan Nuna tidak ada hubungannya denganku."
"Untuknya, Joong-Ki. Hanya satu kali seumur hidup, kau mengerti kan?!" Kata Ibu Joong-Ki.
Amirra Komara adalah kakak tirinya. Sebetulnya Joong-Ki tidak begitu dekat dengan Amirra. Hanya saja karena ia tahu bahwa ia adalah kakaknya, yang meskipun lebih memilih tinggal di Indonesia, maka dia harus bersikap baik.
Amirra memang baik. Justru sangat baik. Setiap kali ia berkunjung ke Korea, Amirra membawakan Joong-Ki banyak oleh-oleh. Amirra tidak pernah absen menyapa Joong-Ki setiap harinya via SMS, meskipun Joong-Ki hanya membalasnya sesekali. Ini karena Amirra tidak pandai berbahasa Korea, dan Joong-Ki terlalu malas jika harus berbahasa Indonesia. Kemapuan Bahasa Indonesia Joong-Ki sama di bawah rata-ratanya dengan kemampuan Bahasa Korea Amirra.
Usia Amirra dan Joong-Ki terpaut tiga tahun. Di Indonesia usia Amirra adalah 30 tahun sedangkan Joong-Ki 27 tahun. Karena cara berhitung usia yang berbeda maka di Korea usia Joong-Ki disebutkan 30 tahun, dan Amirra 33 tahun.
Malam ini ayah dan ibu Joong-Ki bilang Amirra akan segera menikah. Tentu ia senang mendengarnya. Tapi kalimat Ayah selanjutnya lah yang membuat Joong-Ki tidak begitu senang. 
Ayah meminta mereka sekeluarga untuk berangkat ke Indonesia besok malam. Bahkan tiket pesawat pun sudah di pesan tanpa konfirmasi terlebih dahulu dengannya.
"Ayah, ini bukan karena aku tidak ingin pergi. Tapi ini terlalu mendadak. Ini baru Selasa, Ayah tahu aku sedang bekerja. Dan pekerjaanku..."
"E-hem." Ayah Joong-Ki berdeham. Tanda tidak ingin berdebat dan menolak argumen Joong-Ki mentah-mentah. Ya, ayah Joong-Ki memang kelewat otoriter dan arogan. Joong-Ki tahu itu. "Sudah malam. Sebaiknya kau tidur disini." Sambung ayah Joong-Ki sembari bangun dari duduknya.
"Ayah..." Panggil Joong-Ki.
"Besok kau pergi ke kantor untuk mengajukan cuti selama 3 hari." Sambungnya lagi sambil pergi meninggalkan Joong-Ki dan ibu Joong-Ki.
"Ibu, ini tidak masuk akal." Ucap Joong-Ki meminta pertolongan Ibunya. "Itu hanya perusahaan dimana aku bekerja, bukan perusahaanku." Tambahnya.
"Aku tahu." Ucap ibu Joong-Ki mencoba menenangkan anaknya. "Tapi aku yang memintanya untuk memohon padamu agar kamu ikut bersama kami."
Itu bukan memohon. Dengus Joong-Ki sembari melemparkan jasnya di atas kasur. 
Sesuai instruksi Ayahnya, Joong-Ki menginap di rumah orangtuanya malam itu. Perasaannya kalut. Belum selesai urusannya dengan Kang Se-Won kini sudah ditambah dengan pernikahan kakaknya.
"Yang akan menikah itu Amirra. Kenapa aku harus ikut-ikutan?" 

"Terima kasih." Ucap ibu Joong-Ki sembari tersenyum lembut kepadanya.
Joong-Ki yakin bahwa dirinya sudah gila. Persis seperti yang Lee Min-Woo katakan pada dirinya saat ia mengatakan akan pergi ke Indonesia.
"Kau gila!" Pekik Lee Min-Woo. "Tiga hari? Dan kemana kau bilang tadi?"
"Indonesia."
"Indonesia." Teriak Lee Min-Woo seakan-akan kata Indonesia adalah sebuah kata yang harus diucapkan dengan penuh semangat. "Apa yang akan kau katakan pada direktur Kang, huh?"
"Justru itu aku meminta kau yang mengurusnya."
"Kau... Kau benar-benar gila!" Erang Lee Min-Woo.
Yah aku benar-benar sudah gila. Batin Joong-Ki sembari membalas senyum ibunya.
Joong-Ki yakin betul bahwa kedua orangtuanya tahu bahwa permintaan mereka tidak masuk akal. Walaupun ayah memaksa, Joong-Ki pun tahu dia bisa saja menolaknya dengan tidak datang ke bandara. Ayah memang akan marah, tapi ia tahu Ayahnya tidak akan berlama-lama marah padanya.
Semalaman ia menimbang apakah ia harus ikut atau tidak. Dan akhirnya ia memutuskan untuk ikut mereka ke Indonesia.
Tidak semata-mata karena Ayah yang meminta dengan tegas, atau karena yang akan menikah adalah Amirra. Ini semua karena ibunya. Ia sangat mengetahui ibunya. Ibu Joong-Ki tidak pernah mudah meminta bantuan siapa pun dalam menyelesaikan masalah. Ia pribadi yang kuat dan mandiri, maka Joong-Ki tahu alasan mengapa ia meminta Ayah yang mengajak dirinya ke Indonesia. 
Ini semua ibu Joong-Ki lakukan untuk Amirra. Anaknya yang tidak pernah bisa ia manjakan setiap waktu. Anaknya yang lebih memilih tinggal di Indonesia. Anaknya yang hanya bisa ia temui enam bulan sekali--itu pun jika tidak ada halangan. Anaknya yang tidak lama lagi akan benar-benar susah ditemuinya karena menikah.
Dan Joong-Ki ingin menyempurnakan keinginan ibunya yang bisa mengantarkan Amirra ke pelaminan.
"Sudah lama sekali." Ucap ayah Joong-Ki sesaat setelah masuk ke dalam mobil. "Hari ini aku ingin makan karedok." Sambungnya kepada ibu Joong-Ki yang kemudian tertawa.
"Aku tahu." Kata ibu Joong-Ki. "Amirra pun tahu. Ia sudah menyiapkannya khusus untukmu." 
"Benarkah?" Tanya Ayah Joong-Ki girang.
Joong-Ki yang duduk di depan bersama supir yang dikirim oleh Amirra untuk menjemput mereka bertiga di bandara, hanya tersenyum melihat kegirangan Ayahnya.
Butuh waktu tiga jam setengah bagi mereka tiba di Bandung. Tempat dimana Amirra sudah menanti kedatangan mereka.
Joong-Ki ingat betul, Bandung dulu tidak seperti Bandung yang ia lihat kini. Banyak gedung tinggi, papan iklan terpasang dimana-mana, dan terlebih jalan layang yang sedang ia lewati kini adalah pertama kalinya ia lihat dan lewati.
"Ya, sudah lama sekali." Ucap Joong-Ki pelan. "Eomma, berapa lama kita tidak kemari?" Tanya Joong-Ki pada ibunya yang baru saja selesai mengakhiri pembicaraan dengan Amirra di telepon.
Ibu Joongki menaikkan alisnya, menyoba mengingat. "Aku rasa sekitar lima belas tahun."
"Lima belas tahun?" Pekik Joong-Ki sembari menolehkan kepalanya kebelakang. "Benarkah?" Tanya Joong-Ki yang ternyata berbarengan dengan ayahnya.

Amirra memeluk erat Ibu Joong-Ki. Terlihat disudut matanya ia menahan tangis. Ibu Joong-Ki pun melakukan hal yang sama.
"Ayah." Panggil Amirra setelah melepas pelukan Ibu dan kemudian memeluk Ayah. "Aku rindu Ayah, sungguh."
"Tentu, Nak. Ayah juga." Timpalnya sembari melepas pelukan Amirra dan kemudian mencium kening Amirra. "Mana karedok Ayah?" Candanya kemudian.
Tak terlewat Joong-Ki pun mendapat pelukan Amirra. Seperti biasa Amirra akan mencubit pipi kiri Joong-Ki.
"Nuna, aku sudah besar. Dan kau sudah melakukannya tiga bulan yang lalu." Ucap Joong-Ki sebal. Amirra hanya tersenyum jahil kemudian menggandeng lengan Joong-Ki.
"Kau sudah tinggi melebihiku, Joong-Ki." Ucap Amirra menggoda.
"Sudah dari usiaku yang ke tujuh belas".
"Benarkah?" Pekik Amirra pura-pura kaget. "Memangnya usiamu berapa sekarang?"
Mata Joong-Ki melotot. "Jebbal, nuna..." Mohon Joong-Ki.
Amirra memang selalu begitu. Menggoda Joong-Ki, seolah-olah usia mereka terpaut sepuluh tahun. Joong-Ki jelas tidak menyukainya. Namun Amirra sangat menyukainya.
"Terima kasih sudah datang," ucap nenek Amirra dengan suara gemetar, setelah acara makan siang mereka yang tertunda karena perjalanan Jakarta-Bandung yang memakan waktu 
Ia benar-benar sudah tua. Lima belas tahun yang lalu, Ibu bilang usianya 74 tahun, berarti kini usianya sekitar 89 tahun. Semoga ia sehat selalu. Batin Joong-Ki dengan tatapan iba pada Nenek Amirra.
"Iya. Terima kasih sudah mau memenuhi permintaanku." Ucap Amirra menambahi ucapan neneknya. "Sungguh aku tidak bisa menahan rasa bahagia ini... Ayah, Ibu, terlebih Joong-Ki kalian mau datang dan membantuku. Sungguh ini benar-benar membuatku bahagia. Dan tentu aku juga bahagia akan menikah... Terlebih menemukan paman membuatku bahagia".
Kalimat terakhir Amirra lah yang membuat Joong-Ki bingung. Paman apa? Pikirnya dalam hati.
"Bagaimana kau menemukan mereka?" Tanya Ibu Joong-Ki. "Seperti mukjizat saat kau bilang kau bertemu pamanmu lebih dari sepuluh tahun kita kehilangan kontak keluarga almarhum ayahmu, Nak". 
Joong-Ki mengamati pembicaraan Ibu, Amirra, dan nenek Amirra yang menggunakan bahasa Indonesia. Setengah mengerti Joong-Ki semakin penasaran dengan percakapan itu.
"Itu memang mukjizat." Amirra mengangguk-anggukan kapalanya dengan kuat. "Aku sedang di supermarket dengan nenek. Waktu itu aku sedang membayar belajaan kami, dan nenek duduk menungguku di dekat pintu keluar. Saat itulah aku melihat nenek sedang mengobrol dengan seorang pria yang ternyata paman."
"Aku hampir saja membuat Amirra kehilangan kontak yang kedua kalinya dengan Ediya." Sambung nenek Amirra.
Oh paman itu bernama Ediya. Batin Joong-Ki.
"Tapi tidak, Nek. Di waktu yang tepat aku datang." Timpal Amirra sembari menggengam jemari nenek Amirra. "Saat itulah aku minta no kontaknya. Dan kemarin lusa aku meneleponnya untuk meminta janji bertemu. Aku pikir ia bisa meluangkan waktunya pada hari Sabtu atau Minggu, tapi ternyata dia harus berangkat Ke Kalimantan pada Jumat pagi, maka ia memintaku bertemu hari ini."
"Ya, kita harus menemuinya. Dia wali kamu satu-satunya. Kita harus memintanya baik-baik, Amirra." Ucap Ayah.

Joong-Ki duduk sendiri di teras depan. Matanya memandang asal ke depan. Pikirannya sedang menerka-nerka kesana kemari. Saking sibuknya dengan pikirannya ia tidak sadar kalau Amirra sudah duduk di sebelahnya.
"Oh, kau bikin kaget saja." Dengus Joong-Ki.
Amirra menyipitkan matanya pada Joong-Ki. "Aku tidak melakukan apa-apa."
"Karena kau diam saja dan tiba-tiba duduk di sebelahku."
Amirra memanyunkan bibirnya. "Bagaimana kerjaanmu?" Tanya Amirra berkesan basa-basi.
"Berkat kau pekerjaanku berantakan."
"Benarkah?" Pekik Amirra. "Itu kabar baik, Joong-Ki." Goda Amirra. "Kau tidak akan menyesal ikut Ibu dan Ayah ke Bandung." Sambung Amirra sambil menyikut bahu kiri Joong-Ki dengan bahunya.
"Aku harap begitu." Jawab Joong-Ki. "Kenapa kau mendadak akan menikah?" Tanya Joong-Ki mengalihkan pembicaraan.
"Aku tidak mendadak menikah."
"Nuna, Kemarin aku masih bekerja seperti biasa di kantor, tapi tiba-tiba ayah menodongku untuk ikut ke Indonesia esok harinya. Apa kau pikir itu tidak mendadak?" 
"Pernikahanku masih empat bulan lagi, aku rasa itu waktu yang wajar untuk menyiapkan pernikahan. Tidak terlalu cepat dan tidak terlalu lama."
"Tunggu... Kau bilang empat bulan lagi?" Tanya Joong-Ki tidak dapat mencerna informasi yang baru saja dikatakan Amirra. "Ayah bilang malam ini kau akan menikah."
"Joong-Ki, yang benar saja. Mana mungkin malam ini aku menikah dengan wujud seperti ini?" Tanya Amirra sambil menunjuk seluruh tubuhnya sendiri dari kepala hingga kaki. "Kalau malam ini aku menikah, aku pasti sudah menggunakan gaun pengantin dan bermake-up, Joong-Ki." 
Joong-Ki memerhatikan Amirra dari atas sampai bawah. Apa yang Amirra katakan benar. Sudah tiga jam dari semenjak ia tiba di Bandung ia baru sadar bahwa ia tidak melihat Amirra bermake-up atau bergaun indah seperti hendak menikah. Dan jika malam ini Amirra menikah, waktu mereka tidak banyak untuk merubah Amirra dari upik abu menjadi Cinderella. Itu mustahil.
"Tunggu, kalau kau menikah empat bulan lagi. Lalu... Aku kemari untuk apa?" Tanya Joong-Ki semakin kacau pikirannya.
Entah karena beban di pekerjaannya yang belum surut, atau karena ia lelah, dan juga perbedaan waktu antara Korea dan Indonesia, yang pasti ia merasa pusing dengan teka-teki pernikahan Amirra.
"Bertemu waliku."

Sudah cukup bagi Joong-Ki merasa bodoh karena sudah meninggalkan pekerjaannya dan terbang ke Indonesia mengikuti instruksi ayahnya, hanya untuk bertemu wali Amirra. Kini ia sudah berada di sebuah restoran di salah satu hotel di Bandung. Duduk dengan kikuk dan perasaan marah.
Ia tahu betul bahwa ia melakukan ini demi ibunya. Tapi yang ia maksud adalah mengantar Amirra ke pelaminan, bukan mengantar Amirra bertemu walinya.
"Kenapa ibu tidak bilang kita ke Indonesia untuk bertemu wali Amirra?" Bisik Joong-Ki pada ibunya.
"Kau lupa? Ibu bilang pada malam kau menginap di rumah."
Benarkah? Tanya Joong-Ki dalam hati. "Peranku apa disini? Untuk apa aku ikut bertemu wali Amirra? Yang membutuhkan wali itu dia bukan aku, Ibu."
"Karena kita keluarga. Karena ini Indonesia. Begini lah sopan santunnya."
Joong-Ki mengakhiri percakapan dengan ibunya sembari mendengus sebal. Ia merasa bahwa ini semua tidak penting baginya. 
Ia jadi teringat saat kunjungan Amirra tiga bulan yang lalu. Saat itu Ayah menelpon Jong-Ki terus menurus untuk menyuruhnya pulang sebelum kekasih Amirra, Raka, dan orangtuanya tiba.
Joong-Ki ingat betul saat ia bilang kedatangan kekasih Amirra bersama orangtuanya tidak ada hubungannya dengan dirinya. Namun dengan tegas Ayah berteriak di telepon, "kau adiknya Amirra. Kau setengah Indonesia. Tunjukkan sopan santunmu dengan datang kemari sebelum pukul tujuh malam."
Saat itu Joong-Ki menancapkan gas mobilnya secepat ia bisa agar tidak terlambat. Namun ternyata Amirra, Raka dan orangtuanya terlambat. Seperti sekarang ini. Wali Amirra terlambat.
Sudah hampir setengah jam ia dan keluarganya duduk menunggu wali Amirra di restoran ini. Dan mereka belum juga datang.
Joong-Ki yang sedari tadi menahan diri untuk tidak mengomel pada Ayah dan Ibunya, semakin marah dengan keterlambatan wali Amirra. Ia benar-benar ingin pergi dari situ dan terbang kembali ke Korea. Menyelesaikan urusannya dengan Kang Se-Won mengenai proposal timnya yang ditolak mentah-mentah.
"Maaf, kami terlambat." Ucap seseorang di balik punggung Joong-Ki. Tanpa menoleh Joong-Ki sudah yakin bahwa pemilik suara berat itu adalah milik wali Amirra.
"Oh, tidak. Tidak apa-apa." Sahut Ayah Joong-Ki. "Silahkan."
Apanya yang tidak apa-apa. Aku tahu sekali Ayah tidak mentorelir keterlambatan. Sungut Joong-Ki dalam hati. Toleransi keterlambatannya hanya untuk orang Indonesia sepertinya. Sambung Joong-Ki masih dalam hati.
"Apa kabar, Mas?" Tanya Ibu Joong-Ki pada pria paruh baya itu. 
"Baik. Baik." Jawabnya cepat. "Perkenalkan ini istri saya dan anak saya."
Mereka bergantian bersalaman. Joong-Ki pun mendapat giliran bersalaman. 
Wali Amirra. Pria paruh baya yang usianya diatas Ibunya bernama Ediya. Istrinya mungkin sekitar lima tahun lebih muda dari Ibunya bernama Dinar. Anak perempuannya mungkin sepuluh tahun di bawah Joong-Ki bernama Shafiya.
Joong-Ki memperhatikan Shafiya dengan seksama. Gadis mungil yang kini duduk di depannya menggunakan syal di kepala yang sama seperti yang sering digunakan ibunya. Ibu Joong-Ki pernah bilang namanya adalah hijab.
Mata Joong-Ki menyipit memperhatikan Shafiya lekat-lekat. Joong-Ki merasa ada yang kurang pas dengan gadis mungil di depannya. 
Sepanjang makan malam, Joong-Ki terus menerus memperhatikan Shafiya, meski sesekali ikut menjawab pertanyaan-pertanyaan basa-basi yang dilontarkan kepadanya.
"Hebat yah kamu, baru 21 tahun udah banyak pergi ke berbagai tempat." Puji Amirra pada Shafiya.
"Ah!" Pekik Joong-Ki yang tanpa sadar membuat kakak dan Shafiya yang duduk di depannya melirik padanya.
Dering telepon genggam Joong-Ki menyelamatkan tatapan sebal Shafiya. Ya. Sedari tadi Joong-Ki tahu betul bahwa apa yang dilakukannya membuat Shafiya tidak nyaman. Hanya saja ia sendiri tidak bisa berhenti memperhatikan Shafiya.
"Hallo? Tunggu..." Jawabnya. "Permisi, aku harus menerima panggilan ini." Pamit Joong-Ki menggunakan bahasa Korea sembari memandang pada ayahnya, yang kemudian dijawab dengan anggukan halus dari Ayah Joong-Ki. "Permisi." Pamit Joong-Ki pada semua orang yang ada di hadapannya kemudian. 
Joong-Ki menjauhi meja makan dan memilih tempat untuk melanjutkan menerima panggilan telepon dari sahabatnya, Lee Min-Woo. "Ya?" Tanya Joong-Ki kemudian.
"Ya?" Lee Min-Woo balik mengulangi pertanyaan Joong-Ki dengan sebal. "Hanya itu?"
"Ada apa? Kau melakukan panggilan internasional. Ada hal penting?" Tanya Joong-Ki langsung.
Terdengar desahan Lee Min-Woo diseberang sana. "Penting? Entahlah. Mungkin bisa dibilang penting."
"Apa itu?" 
"Direktur Kang mencarimu. Dia bilang tidak bisa menghubungimu. Aku katakan kau sedang merasa tidak enak badan, dan mengambil cuti sakit sehari..."
"Aku bilang tiga hari." Potong Joong-Ki.
Lee Min-Woo berdeham sebal. "Kemudian direktur Kang bilang... 'Dua hari. Hari ini dan besok. Senin dia harus ada di hadapanku dengan segudang ide untuk pre-wedding anak Direktur Utama, Kang Jung-Man'."
"Ide untuk apa kau bilang?" Tanya Joong-Ki merasa apa yang di dengarnya salah. 
"Itu yang ingin aku tanyakan." Jawab Lee Min-Woo. "Apa maksud Direktur Kang? Kenapa kita mengurusi pernikahan Kang Jung-Man? Lagi pula siapa itu Kang Ju-Man? Dia bilang dia anak Direktur Utama, anak yang mana? Bukankah anaknya hanya Kang Se-Won? Si wanita gila..."
Lee Min-Woo terus menyerocos tentang Kang Se-Won, Joong-Ki tidak benar-benar mendengarkan ocehan Lee Min-Woo. Ia sibuk mengerutkan keningnya. Seakan sakit kepala ia memijat keningnya. Berusaha menyusun puzzle yang diberikan Direktur Kang melalui Lee Min-Woo.
"Hari ini kau tidak mengacau kan?" Todong Joong-Ki.
"Hey!" Geram Lee Min-Woo.
Joong-Ki menjauhkan telpon genggamnya dari telinga. Bentakan Lee Min-Woo nyaris membuat telinga Joong-Ki berdenyit.
"Dengar. Kau harus kembali menemui Direktur Kang dan..." Ucapan Joong-Ki tertahan. Ia melihat Shafiya berjalan ke arahnya.
"Permisi." Ucap Shafiya sembari menunjuk wastafel di belakang Joong-Ki.
"Oh?" Joong-Ki menoleh ke arah yang ditunjuk Shafiya. "Oh, ya. Silahkan." Lanjutnya setelah melihat apa yang dimaksud Shafiya, Joong-Ki membawa tubuhnya sedikit menjauhi wastafel.
"Hallo? Kau bilang apa? Itu bahasa Indonesia yah?"
"Ya." Jawab Joong-Ki cepat. "Dengar. Kau harus menemui Direktur Kang dan bilang padanya kita tim kreatif untuk iklan bukan pernikahan."
"Apa katamu?" Bentak Lee Min-Woo. "Kau ketua timnya! Aku hanya staff. Staff! Kenapa harus aku? Kenapa?"
"Ayolah... Kau wakil ketua tim. Kau yang ambil alih semuanya selagi aku tidak ada."
"Tetap saja..."
"Satu lagi, aku tidak akan kembali hari Senin. Bilang pada Direktur Kang Selasa aku akan menghadapnya."
"Ya! Park Joong-Ki!"
"Kerjakan. Itu perintah. Aku tutup teleponnya." Ucap Joong-Ki cepat dan benar-benar mematikannya. 
Joong-Ki menghembuskan nafas panjang. Dua hari ini adalah hari terburuknya sepanjang tahun ini. 
Ia melihat Shafiya yang selesai mencuci tangan dan melewatinya. Tanpa disadari Joong-Ki memanggilnya.
"Hey!" Panggilnya.
Shafiya menghentikan langkahnya dan menoleh perlahan ke arah Joong-Ki. "Aku?" Tanya Shafiya sambil menunjuk hidungnya dengan telunjuk kanannya. "Apa?" Tanya Shafiya setelah melihat anggukan kepala Joong-Ki.
Joong-Ki mengamati Shafiya dengan seksama. Matanya menjelajahi Shafiya dari atas sampai bawah.
"Maaf. Tapi tidak seharusnya kamu melihatku seperti itu." Ucap Shafiya tegas. "Aku tidak suka."
"Oh maaf." Joong-Ki buru-buru meminta maaf. "Hanya saja... Kau tidak terlihat sudah menikah."

Tuesday, 26 November 2013

Hello

Hello. Hai. 안녕.
Wow. I almost forget that I have blogger account. Hehe..
Well i don't know what exactly what I want to write, but I only will post it. Just it. For now.

Friday, 8 June 2012

Juniel feat. Jung Yonghwa CN Blue

Ha? Siapa itu Juniel? Setelah Park Shin Hye, ada lagi cewek cantik disebelah Jung Yong Hwa si leader CN Blue. Uggh... ><

Tapi tenang, mereka cuma nyanyi bareng di salah satu statsiun TV Korea :D

Juniel atau yang bernama asli Choi Junhee 최준희 pada tanggal 7 Juni 2012 kemarin merilis mini album 'My First June'. Salah satu lagu singlenya adalah yang bejudul Stupid yang dinyanyikan duet bersama Jung Yonghwa CN Blue :D
Afterall... yang penting itu berita tentang Yonghwa oppa :D uuh.. love he's voice ><

Tuesday, 5 June 2012

Penyamaran Jang Keun Suk

HAHAHA... LOL~
Can you imagine, seorang Prince Asia menyamar untuk membeli CD dari album terbarunya sendiri dan sedikit anehnya tidak ada yang menyadarinya :DD
Jang Keun Suk (장근석) si Pangeran Asia ini sempat-sempatnya menyamar untuk membeli CD dirinya sendiri disaat jadwalnya padat. Dengan topi, masker, dan kacama hitam yang nyaris menutup wajahnya itu, Jang Keun Suk oppa benar-benar luar biasa! luar biasa niat penyamarannya. HAHAHA :DD

How did they are not recognize him? LOL~ :D
Andai saat itu v ada di toko itu, mungkin v bakalan jadi orang pertama yang sadar kalau itu adalah Jang Keun Suk :p kenapa?? habis pemarannya itu terlalu menonjol. Apalagi beberapa film sering kasih clue bagaimana para superstar menyamar pada saat keramaian hahahaha :DD
Luar biasa lainnya adalah, dengan santai dia berpose disetiap posternya :D dan mengupdate tweetnya seperti: “Took a picture with Keun-chan at Shibuya’s Tower Record,” “Luckily got in without getting caught!” and “Just bought 50 copies of Jang Keun Suk’s first official album.”HAHAHA.. :DD


sumber berita : yahoo

photo of Jung Yong Hwa (정용화) after workout :D






Flashnews from website Chosun, ada berita tentang Jung Yonghwa (정용화) si leader CN Blue yang pamer otot after dia workout di sebuah Gym. Actually, v sih engga peduli dengan si ototnya :p tapi yang v peduliin adalah "asli ini tuh Jung Yonghwa?" hahaha...

Sunday, 3 June 2012

CN Blue - Love Girl (MV)


[Yonghwa] Tell me, tell me sarangeul malhaejwo
Tell me, tell me ne sarang jeonhaejwo
Love me, love me nae pume angyeojwo
Kiss me, kiss me neomaneul saranghae

[Yonghwa] nega useul ddaen nan babocheoreom
Naega neol bol ddaen neon machi yebbeun inhyeongcheoreom
Gaseumi neomu dugeundugeun dugeungeoryeo
Neo ddaemune nan haruharu haengbokaejyeo

[Yonghwa] I want you oh my love naman barabwajwo
Neomaneul saranghae sesang modu byeonhaedo
Oh my love neoman bomyeon ddwineun gaseum eonjeggajina
Neoman damgo isseulge

L.O.V.E Girl [Jungshin] nae soneul japgo Fly
L.O.V.E Girl [Jungshin] uh uh, nareul mitgo Fly high
L.O.V.E Boy [Jungshin] Ye-Ye-Yes we can fly to the sky
L.O.V.E Boy [Jungshin] I will take you there baby

[Yonghwa] Tell you, tell you sarangeul malhalge
Tell you, tell you nae sarang gobaekae
Love you, love you nae soneul jabajwo
Kiss you, kiss you yeongwonhi saranghae

[Yonghwa] nega deullyeojuneun eumakcheoreom
Nega deullyeojuneun dalkomhan konoraecheoreom
Ilbun ilchoga neomu neomu sojunghaejyeo
Maeil deutgo sipeo sarang sarang saranghae neol

[Yonghwa] I want you oh my love naman saranghaejwo
Neol saranghanigga dareun sarang byeonhaedo
Oh my love neoreul geurin jageun gaseum eonjeggajina
Neoman ango isseulge

L.O.V.E Girl [Jungshin] nae soneul japgo Fly
L.O.V.E Girl [Jungshin] uh uh, nareul mitgo Fly high
L.O.V.E Boy [Jungshin] Ye-Ye-Yes we can fly to the sky
L.O.V.E Boy [Jungshin] I will take you there baby

[Younghwa] I want you oh my love naman barabwajwo
Neomaneul saranghae sesang modu byeonhaedo
Oh my love neoman bomyeon ddwineun gaseum eonjeggajina
Neoman damgo isseulge

L.O.V.E Girl [Jungshin] Take Take Take my hands
L.O.V.E Girl [Jungshin] uh uh, Grab Grab Grab my hands
L.O.V.E Boy [Jungshin] Ye-Ye-Yes we can fly to the sky ha ha
L.O.V.E Boy [Jungshin] I will take you there baby

[Yonghwa] Take Take Take my hands baby you (You! ) know what I want, you
Kungkwanggeorineun simjangsoriga deullini can you feel my beat
Take Take Take my hands baby you (You! ) know what I want, you
Naneun neo animyeon dwae neomani make me laugh you make me laugh

L.O.V.E Girl


English Translation : 
Tell me Tell me, tell me about love, Tell me Tell me, share your love with me
Love me Love me, let me hug you, Kiss me Kiss me, I love only you

I’m like a fool when you smile, you’re like a pretty doll when I look at you
My heart beats so fast. My everyday becomes happy because of you.

I want you oh my love, please look at only me. Even when the world changes, I love only you,


Oh my love, my heart always beats whenever I see you. I’ll cherish only you.

(L.O.V.E GIRL) Hold my hand and Fly (L.O.V.E GIRL) Trust me and Fly high
(L.O.V.E BOY) Yes, we can fly to the sky (L.O.V.E BOY) I want to take you there baby

Tell you Tell you, I’ll tell you about love. Tell you Tell you, I love you.
Love you Love you, hold my hand. Kiss you Kiss you, I love you forever.


Like a music you play for me, like a sweet hum you sing for me,
each minute, each second becomes so precious. I want to hear it everyday, I love, love, love you.

I want you oh my love. Please love only me. Because even when other loves change, I love you.


Oh my love, my small heart that pictured you. I’ll always hug only you.

(L.O.V.E GIRL) Hold my hand and Fly (L.O.V.E GIRL) Trust me and Fly high
(L.O.V.E BOY) Yes, we can fly to the sky (L.O.V.E BOY) I want to take you there baby

I want you oh my love, please look at only me. Even when the world changes, I love only you,


Oh my love, my heart always beats whenever I see you. I’ll cherish only you.

(L.O.V.E GIRL) Take Take Take my hands
(L.O.V.E GIRL) Uh uh Grab Grab Grab my hands
(L.O.V.E BOY) Yeah yeah Yes, we can fly to the sky high high
(L.O.V.E BOY) I want take you there baby

(L.O.V.E GIRL) Take Take Take my hands baby you (you) know What I want u
(L.O.V.E GIRL) Can you hear my beating heart? can you feel my beat
(L.O.V.E BOY) Take Take Take my hands baby you (you) know what I want u
(L.O.V.E BOY) I can’t live without you, only you can make me laugh you make me laugh
L.O.V.E GIRL


rewrite from Amalia_Key's blog

CN Blue - Now or Never (English Version Lyric)

through the day, through the night
my selfconfidence was out of site
you came alone, came on strong
and you change the things that fell so wrong
she said

if you heading for the right direction
if you're ready, you can do it too
gonna rise up to the right occasion
cause together we can see it through

baby it's now or never
this time is right oh oh
i got a feelin' it's for good without a doubt oh oh
we are forever me and you
deep in your heart you know it's true
baby it's now or never yeah
feel so right

goin' up won't go down
there's know stopping us was livin ground
you can do what you do
not a thing i could deny for you

if you heading for the right direction
if you ready, you can do it too
gonna rise up to this one occasion
cause together we can see it through

baby it's now or never
this time is right oh oh
i got a feelin' it's for good without a doubt oh oh
we are forever me and you
deep in your heart you know it's true
baby it's now or never yeah
feel so right! feel so right!

baby it's now or never
this time is right oh oh
i got a feelin' it's for good without a doubt oh oh

oh baby it's now or never
this time is right oh oh
i got a feelin' it's for good without a doubt oh oh
we are forever me and you
deep in your heart you know it's true
baby it's now or never yeah
feel so right!

LISTEN NOW!!

CN BLUE


CN Blue (bahasa Korea: 씨엔블루), adalah band indie rock asal Korea Selatan. Band ini memulai debutnya di Jepang pada tanggal 19 Agustus 2009 dengan album mini pertama band ini yaitu Now or Never download here!
Band yang beranggotakan 4 orang cowok ganteng ini sempat pecah. Pada awal kemunculan mereka, Kwon Kwang Jin (권광진) masih merupakan anggota dari CN Blue. Kini anggota CN Blue adalah Jung Yong Hwa (정용화 sebagai Pemimpin, Vokalis utama, Rapper, dan pastinya Gitaris Rhythm :D
Kemudian ada  Lee Jong Hyun (이종현) sebagai Gitaris utama, Vokalis, Kang Min Hyuk (강민혁) sebagai Backing Vokal, Drummer, dan terakhir ada Lee Jung Shin (이정신) sebagai backing Vokal, Rapper, Bassis.
Walaupun mereka udah tinggal bersama selama kurang lebih 5 tahun tapi mereka engga pernah berantem loh.. Dan hebatnya Jung Yong Hwa sebagai leader sekaligus anggota tertua benar-benar sangat bijaksana :)

Kalian yang sudah menonton Heartstring atau You're Beautiful pasti tahu kalau Jung Yong Hwa ikut memainkan peran dalam drama seri korea itu. Kalau aku ditanya peran Jung Yong Hwa mana yang aku sukai, maka aku jawab perannya sebagai Lee Shin di drama Heartstring. Yah.. walaupun menurut berita drama tersebut di Korea sana Heartstring kurang melonjak ratingnya :'( Padahal kan jalan ceritanya bagus!!
Dilaur itu semua, siapa sih yang engga suka Jung Yong Hwa?? :D

Wednesday, 23 March 2011

penggelan cerita yang terkubur

"aku akan selalu ada untuk kamu, meski kamu bahagia dengannya, karena ku yakin pada akhirnya kamu milikku", hanya sepenggal kalimat namun mampu membuat aku menggigil ditengah malam ini.
Tuhan, salahku kah yang hadir dalam hidupnya? Namun salah Tuhan memberiku kesempatan bertemu dengannya.
Aku tak menampik bahwa aku menyayanginya, tapi aku menyesal rasa sayang ini membuatku menderita. Menderita karena dia masih mencoba dan mengharapkannya, menderita karenanya masih memikirkan dia disela-sela memikirkanku, dan menderita karena keegoisanku yang tak ingin melepaskanya.
Aku mencoba bertahan dalam rasa sakit. Apa aku masih mempercayainya? Dalam hal rasa cinta, tentu tidak. Tapi aku merasakannya, meski pada kenyataan sebelum dia hadir merusak segala rasa percayaku, aku merasakan hal yang sama: rasa cintanya padaku itu nyata.
Masihkah aku harus mempercayai rasaku yang pernah mengkhianati diriku sendiri ini?


-----------------------


Mataku terpejam namun otak ini terus bekerja. Lelah. Cukup sudah rasa mengharap ini.
Pernahkah berfikir "jangan sedih, semua akan baik-baik saja"? Aku berfikir seperti itu. Dulu. Bukan sekarang. Bukan disaat semua orang mendapat perlakuan yang sama dengaku olehmu.
Ini tidak akan baik-baik saja. Itu yang paling benar.
Aku mengkhawatirkan diriku sendiri karena kamu lebih mengkhawatirkannya dibandingkan aku sendiri. Aku tidak peduli padamu karena kamu tidak sepeduli kamu padanya terhadapku.
Ini bukan soal keadilan, ini soal bagaimana kamu memperlakukan orang yang kamu sebut cinta. Kepercayaan tidak bekerja untuk kita. Namun aku percaya kamu akan jauh lebih bahagia jika bukan aku yang kamu cintai, khawatirkan, dan/atau pedulikan.


----------------------


Saat hati ini tertutup, karena hanya dapat menerima cintamu, apakah kamu melakukan hal yang sama? Demi Tuhan, tidak ada manusia lain yang aku cintai selain dirimu. Namun tiada manusia lain pun yang membuatku gelisah seperti sekarang ini.
Apa yang membuatku seperti ini?
Pengalaman atau murni dari hati?
Tetap saja keduanya adalah hal terindah dan termenyakitkan yang pernah ku alami. Dan kenyataan terpahit adalah disaat sebuah pilihan yang memberatkan jawaban meninggalkanmu.
Berusaha mencintai, menerima, atau memaafkan dirimu adalah hal mudah bagiku. Namun meninggalkan atau melupakanmu adalah hal yang sulit.
Ya, sulit. Namun tetap harus aku jalani, meninggalkanmu jauh lebih baik untuk semuanya, meski bukan baik untukku.

Thursday, 10 February 2011

Saya Bukan Jemaat Ahmadyah

Saya bukan jemaat Ahmadyah.. Saya juga tidak akan masuk jemaat Ahamadyah. Namun sungguh disayangkan dengan apa yang terjadi pada tanggal 6 Februari 2011 lalu, yang lebih dikenal dengan sebutan "Tragedi Cikeusik". Apa yang terjadi pada tragedi hari itu adalah sebuah pembunuhan yang keji, jahiliyah, tak bermoral dan sangat biadab.
Saya bukan jemaat Ahmadyah.. Saya juga tidak akan masuk jemaat Ahamdyah.. Namun saya mengutuk mereka yang sudah membunuh dengan biadab dengan dalih Agama serta mengumandangkan takbir. Sugguh tak mencerminkan seorang muslimin, dan Islam adalah agama yang penuh demean kasih sayang bukan kekerasan.
Saya bukan jemaat Ahmadyah.. Saya juga tidak akan masuk jemaat Ahmadyah.. Namun saya mengenal satu keluarga jemaat Ahmadyah (Qadiyan). Mata saya tidak buta, dan hati saya pun tidak gelap. Mereka yang mengatakan bahwa Ahamadyah ini itu dengan segala keburukan yang tersebar mengenau jemaat adalah sebuah fitnah.
Saya bukan jemaat Ahamdyah.. Saya juga tidak akan masuk jemaat Ahmadyah.. Namun alhamdulillah Allah swt mempertemukan saya dengan mereka yang jemaat Ahmadyah Qadiyan bukan Lahore, arena dengan begitu saya menjadi tahu hal yang sebenarnya dari fitnah-fitnah yang terlanjur tersebar.
Saya bukan jemaat Ahmadyah.. Saya juga tidak akan masuk jemaat Ahmadyah.. Namun dengan ucapan saya yang menyangkal fitnah orang-orang terhadap jemaat membuat saya dimusuhi. Padahal tidak ada dari mereka (jemaat) yang memaksa saya untuk mengikuti mereka. Ini mata saya, dan saya hanya telah membuktikan isu-isu yang beredar mengenai jemaat.
Saya bukan jemaat Ahamadyah.. Saya juga tidak akan masuk jemaat Ahmadyah.. Namun saya ingin memberitahukan dan meluruskan fitnah yang telah kita sebarkan mengenai jemaat Ahmadyah. Segala sesuatu yang ada pada ajaran Ahmadyah adalah sama adanya dengan Islam yang kita yakini. Mereka (jemaat Qadiyan) tidak melarang saya untuk shalat dimesjidnya, syahadat mereka sama, mereka tidak menganggap saya kafir, dan mereka pun pergi haji ke Mekkah. Ya benar adanya mengenai bagaimana Ahamadyah mentafsirkan "khataman nabiyyin" dengan yang kita tafsirkan. Diluar satu hal itu, lain halnya adalah fitnah.
Saya bukan jemaat Ahmadyah.. Saya juga tidak akan masuk jemaat Ahamdyah. Namun meski begitu tidaklah pantas kita yang hanya manusia biasa mengambil kuasa Allah swt dalam menghakimi suatu kaum. Dan mohon ingat kembali bahwa "fitnah lebih kejam dari pembunuhan", sebaik-baiknya sikap adalah jangan menyebarkan isu dan/berargumen jika kita tak mengetahuinya secara langsung. Semoga Allah swt menunjukan kebenaran yang hakiki.

Friday, 7 May 2010

Song of The Week

Song of The Week :

1. Aku Siap Patah Hati - Shandy
2. Beda - Andity
3. Aku Kecewa - VOO
4. Sudahi Perih Ini - d'massive
5. Kamu Nyata - Roy (Boomerang)

Thursday, 6 May 2010

End of A in The First M

"Tuhaaaaannn..." pekik aku dalam hati sesaat setelah membaca sms menjijikkan itu. Dengan degup jatung yang sama saat aku menemukan sms datar sebulan yang lalu, dan tanpa berfikir panjang pula aku pun memberikan handphone miliknya dengan setengah memaksa agar dirinya membaca isi sms yang baru saja aku baca tersebut.
Ku perhatikan sekilas ekspresi wajahnya sebelum aku kembali ke layar televisi, wajahnya yang pucat karena baru saja bangun dari sakit menjadi semakin pucat setelah membaca sms itu. Padahal aku yakin sekali, beberapa hari sebelumnya, bukan wajah pucat yang dia pancarkan saat membaca sms itu, namun wajah memerah karena tergoda atau mungkin bangga.
DAMN
ini adalah malam penghujung bulan April, malam dimana aku berharap dia kembali sehat atas kepulangannya dari rumah sakit. sial, kenyataannya ini adalah malam terlaknat yang harus aku lalui.

Dari balik jendela kamar ini, aku hanya melihat cahaya bulan dikejauhan sana. Hanya cahaya lampu-lampu yang terpancar cerah dari gedung-gedung tinggi di hadapanku.
Ini adalah kali kedua aku mengagumi keindahan kota Jakarta di malam hari, setelah yang pertama saat aku menemaninya di rumah sakit, kini saat aku menangisi kisah dramatis nan menyakitkan dalam hidupku.
Jakarta... benar apa kata mereka, bahwa Ibu Kota Indonesia ini adalah kota yang kejam. Rasa sesal menggelitik sukmaku, mengingatkanku bahwa kejujuran adalah dosa termanis.
Di awal bulan Mei ini aku menangisi kejujuranku.
10 bulan yang lalu, aku jujur bahwa rasa yang aku miliki untuknya adalah rasa suka biasa yang mungkin hanya terbawa emosi sementara. Beberapa bulan kemudian, aku jujur bahwa rasa yang aku miliki untuknya mulai tumbuh dan tumbuh. Hingga akhirnya aku benar-benar jujur bahwa hanya ada dia dalam hati, pikiran, dan hidupku.
Dan itu adalah kesalahan.
Rasaku padanyalah yang membuat kejujuran itu hadir, jika saja saat itu aku menahan rasaku, aku rasa kini, malam ini, aku tidak akan berada disini, menangis mengutuknya yang sudah memperdayaku.

Seminggu sudah berlalu, aku lebih baik dari sebelumnya, meskipun kata 'baik' disini tidak menghapus apapun juga. Ya, seminggu sudah berlalu, dan ini semua berkat teman-teman yang setia menemani, wajah-wajah menjijikkan yang hanya berupa bayangan dalam mimpi, cibiran cewek-cewek penggoda itu, tawa bangga dirinya, film-film cengeng yang diputar salah satu stasiun televisi, lagu-lagu menyindir milik d'massive, Rini idol, dan she, sampai gelapnya kamarku. Aku rasa ada campur tangan malaikat penggoda untuk dua hari terakhir ini, karena meski gelap hawanya melelapkan tidurku, menenangkan hatiku, hingga tawapun mengudara.
Nothing works like you! Kamu yang aku sayangi dan yang menyakitiku, dan kamu juga yang buat aku tertawa disela-sela sakit ini.

Dan hari ini, dimana aku sedang menikmati kembali film-film cengeng yang diputar oleh salah satu stasiun televisi swasta, aku menemukan dua pepatah yang menjadi dialog dalam adegan film tersebut. Tokoh perempuan bernama Reva memberikan pepatah ini kepada mantannya, "perempuan bukan diciptakan dari tulang kaki, yang bisa seenaknya dibuat sakit hati oleh laki-laki dan juga bukan diciptakan dari tulang kepala sehingga bisa semena-mena kepada laki-laki, tapi diciptakan dari tulang rusuk karena dekat dihati untuk dicintai dan dekat dilengan karena untuk dilindungi".

Pepatah itu klasik, tapi untuk saat ini benar-benar membantuku untuk lebih membuka pikiranku menjadi lebih luas dari sebelumnya. Ya, hatiku sakit karena pengkhianatan ini, tapi aku harus kuat. Aku diciptakan untuk dicintai dan dilindungi, dan aku percaya itu. Karena semua sakit ini adalah obat berisi racun yang baik untuk tulangku; untuk kekuatannya dan untuk fungsinya.
Dan sesakit apapun rasanya, toh aku tetap harus melanjutkan hidupku. Dengan atau tanpanya aku tetap hidup dan tetap dalam rasa sakit itu. Tinggal waktu dan bukti penyesalannya yang akan membuat rasa sakit ini hilang, meski dalam kenyataannya cerita ini adalah kenyataan yang menyakitkan.

Monday, 12 April 2010

Beda - Andity

Ku ingin bertanya
Sungguhkah kau sayang aku
Kadang aku pun meragu
Engkau tampak beda
Tak seperti dulu

Mungkin waktu yang tlah mengubah
Kenyataan atau mimpikah diriku dengan
Semua ini meski ku tak berubah
Hanya kau yang menyita seluruh hatiku
Disini

Ku tak pernah berpikir
Ada yang lain dihatimu
Tapi bila
Begitu adanya
Jangan kau membisu
Ungkapkan padaku

Mungkin waktu yang tlah mengubah
Kenyataan atau mimpikah diriku dengan
Semua ini meski ku tak berubah
Hanya kau yang menyita seluruh hatiku
Disini

Takkan ada yang mampu
Menggantikan satu dirimu

Sunday, 14 March 2010

. . bukan manusia sempurna

Ada dua hal yang buat aku takut. Teramat sangat aku takuti. Hal pertama adalah membuat kesalahan besar dan berakhir dilaknat oleh-Nya. Kedua adalah menyakiti orang yang aku sayang. . Ya… aku rasa semua orang takut akan hal yang pertama aku sebutkan tadi. Sedangkan untuk hal yang kedua, hm… aku rasa semua orang juga sama denganku. Hahaha..

Anyway… Untuk hal ‘takut menyakiti orang yang aku sayang’ itu punya arti yang universal, karena arti dari kata sayang itu sendiri bermakna ganda. Bisa untuk siapa saja. Aku takut menyakiti orangtuaku, keluargaku, teman-temanku, atau pacarku. Umumnya bagi siapapun yang berkomunikasi, berhubungan, dan memiliki keterikatan denganku. Baik itu secara profesional ataupun pribadi.

Bagiku menyakiti seseorang sama halnya menyakiti diri sendiri, apalagi jika orang yang kita sakiti adalah orang yang kita sayangi. Sayangnya, aku tidak pernah tidak menyakiti orang yang aku sayangi. Ya, bukan sekali aku pernah menyakiti seseorang.

Hidup itu memang tidak mudah. Kita selalu dihadapkan pada dua pilihan. Bertahan atau menyerah. Maju atau mundur. Kaya atau miskin. Pintar atau bodoh. Dan lain sebagainya.

Dan kini, saat aku ditakutkan pada hal ‘menyakiti seseorang’, tetap saja dua pilihan hadir didalamnya. Menyakiti atau disakiti.

Pada awal mulanya aku selalu memilih untuk disakiti, karena itu akan lebih mudah bagiku untuk mulai melupakannya (dibaca: membenci orang yang menyakitiku). Seiringnya waktu, ternyata aku menyakiti seseorang. Bisa dari sikapku atau tutur kataku. Baik disengaja mau pun tidak disengaja. Menyakitkankah bagiku? Tentu saja. Menyakiti, bagiku, lebih menyakitkan dari disakiti. Mengapa? Karena sisa dari sebuah penyesalan telah menyakiti adalah rasa bersalah. Dan rasa bersalah itu tidak akan pernah hilang meskipun sebuah kata ‘maaf’ sudah menggelontor keluar dari mulut dan bahkan kata ‘dimaafkan’ pun diberikan.

Manusia memang tidak ada yang sempurna. Aku menyakininya. Tapi apakah setiap manusia tidak pernah menuntut sebuah kesempurnaan? Aku rasa munafik jika kita berkata ‘aku tidak menuntut kesempurnaan’. Mengapa? Karena kita adalah makhluk sosial, pendapat seseorang adalah tuntunan kita untuk maju. Pada saat pendapat itu berupa kritik, maka kita akan memperbaikinya, dan jika pendapat itu sebuah pujian, maka kita akan berusaha untuk lebih baik lagi. Bukankah itu proses untuk menjadi sempurna? Ya… walaupun hasil akhirnya sudah kita ketahui. Bahwa tidak ada manusia yang sempurna.

Terus apa hubungannya dengan ketakutan untuk menyakiti atau pilihan untuk disakiti? Jelas ada. Karena aku bukan makhluk sempurna. Aku memiliki kekurangan, kelemahan, atau keterbatasan dalam beberapa hal. Dan salah satu faktor yang membuat terjadinya proses ‘menyakiti’ atau ‘disakiti’ adalah kekurangan, kelemahan, atau keterbatasan yang aku miliki.

Bukan berarti kekurangan, kelemahan, atau keterbatasan itu tidak memiliki tempat yang sejajar dengan suatu keberhasilan seseorang. Tidak. Ada kalanya seseorang sukses karena kekurangan, kelemahan, atau keterbatasannya. Atau kebalikannya, sebuah kelebihan seseorang bisa saja menyakiti atau tersakiti olehnya.

Yah… karena ini mengenai diriku, maka hal yang membuatku ‘menyakiti’ atau ‘disakiti’ tidak lain karena kelemahan, kekurangan, atau keterbatasanku dalam hal memahami seseorang. Ditambah lagi dengan sikapku yang ‘tidak sabaran’ , ‘kurang pengertian’, dan ‘sulit mempercayai seseorang’ semakin membuat aku merasa bahwa hal tersebut adalah faktor utamanya.

Lalu bagaimana faktor-faktor penyebab ‘menyakiti’ atau ‘disakiti’ tersebut hilang? Aku masih mencarinya. Dan tentu dengan sedikit usaha dan doa aku mulai memperbaikinya. Walaupun belum ada hasil yang bisa dibilang ‘terlihat’.

Apa yang harus dilakukan agar hal ‘menyakiti’ atau ‘disakiti’ tidak terulang? Introspeksi diri dan mulai memperbaikinya.

Bukankah itu butuh proses? Dan terkadang proses itu membutuhkan waktu lama. Apa cara efektif yang bisa dilakukan agar hal ‘menyakiti’ dan ‘disakiti’ tidak terulang? Hm… mari kita merenung sejenak. Pikirkan secara perlahan dan baik-baik. Dan jika sudah mendapatkan jawabannya, beritahu aku secepatnya :D

…

Kemarin v dapat kebar salah seorang guru pensiunan di sekolah v meninggal. Beberapa hari sebelumnya dia curhat pada salah seorang guru: “ada yang sakit hati sama saya karena ucapan saya. Sampai sekarang dia sakit hati. Saya sudah minta maaf tapi beliau sepertinya nggak maafin, soalnya setiap ketemu saya dia acuh. Makanya saya minta maaf yah kalau saya salah… kalau kata-kata saya nyakitin, ya saya memang begini adanya, bukan maksud sengaja kalau bicara kasar” (kata-katanya mungkin nggak sama 100% tapi kurang lebih begitu). Dan hampir ke semua guru beliau bilang seperti itu sebelum kemudian kemarin tanggal 10 Maret 2010 beliau meninggal dunia akibat kecelakan motor di jalan Cikutra. Innalillahi wa inna’illaihirojiun…

Bukan maksud apa-apa v cerita soal almarhumah, tapi v cuma mau berbagi aja kalau umur itu teramat sangat nggak bisa diduga. Dan karenanya, meminta maaf untuk segala sesuatunya (apalagi kesalahan yang sengaja kita perbuat) perlu banget. JADI… Buat yang pernah v sakiti, maaf yah… huhuhu~ mau itu yang disengaja atau nggak pokoknya maafin v yah… ^-^

Friday, 19 February 2010

KOSONG

Oukey... ini adalah hari ke lima dari sakit yang nggak kunjung surut ini! Cermin pun udah nggak mau nampakin bayangan v, saking menyeramkannya! Rambut rawig, mata celong, bibir keriput, muka kusam, etc... semuanya menggambarkan seorang mak lampir tercantik yang pernah ada di alam gaib. well... tapi v bukan mak lampir, cuma untuk beberapa hari ini-akibat terkulai lemas tak berdaya di tempat tidur, semuanya berubah menjadi kelam. oukey... hapus kata-kata v yang terakhir. itu terlalu berlebihan. DAN pastinya BOHONG!!

v sakit? iya... sakit hati ini. (makin BOHONG)

pusing! itu yang pastinya!! pusing ini bener-bener susah ilangnya. baru kali ini aja bisa duduk berjam-jam depan layar c leppy tanpa merubah posisi jadi tengkurep dan lendean di bantal. NO! hari ini v jauh lebih baik dari kemarin! ya... walaupun, untuk yang kelima kalinya (kalau dihitung dari hari kemaren) jatuh gara-gara pusing. but it's okey... itu sih efek dari kebanyakan tidur, kurang menggerakkan tubuh, dan mata kunang-kunang akibat kebanyakan nonton FTV. hehe..

ngomongin soal FTV, koq makin hari ceritanya makin mirip satu sama lain yah? apa memang dilema, masalah, konflik hidup itu cuma gitu-gitu aja? :-?
nggak tahu juga sih.. yang pasti mungkin karena cerita seperti itu yang digemari oleh para konsumen film televisi.

pointless banget yah post-nya? hahahhaa... XD

Wednesday, 17 February 2010

Rest In Peace :'(

It is my pet :)
it name is Mandy, it's a girl.
Kemaren Mandy mati, padahal sebelumnya dia baru pulang setelah rawat inap 17 hari di Andrawina pet centre. Sumpaaaaahhh... kasian banget!! sedih? pastinya... soalnya Mandy baru umur 3 bulan, masih baby, lagi lucu-lucunya. walaupun dia memang nggak tumbuh maksimal gara-gara penyakitnya kemarin.
Ya... walaupun sedih, v harus ikhlas. mungkin ini lebih baik untuk Mandy dari pada dia harus hidup nggak maksimal. luv you!! Rest in peace, Mandy...

Sunday, 14 February 2010

Happy Valentine's Day

Hoooooooo... makasih buat temen-temen yang kirim ucapan "Happy Valentine's Day", but guys... so sorry, v nggak ngerayain :D , tapi tetep makasih untuk ucapannya... :)

anywaaaaaayyy... musim valentine tahun ini nggak ngebuat v meriang. haha.. ya biasanya kan suka kerasa banget deh kalau mau deket-deket tanggal 14 februari tuh semuanya serba pink. Dimana-mana pink deh.. sampai sepeut mata. tapi... nggak tahu karena v nggak jalan-jalan nggak tahu karena v nggak merhatiin, v ngerasa valentine tahun sekarang tileuleup. Yup! tenggelam! mungkin 'coz harinya barengan dengan Imlek kali yah??

yah.... buat yang orientasinya dengan cinta, pasti pilih untuk ber-valentine-ria, tapi untuk yang orientasinya duit otomatis pilih ngerayain imlek.

v pilih mana??

v pilih diem di rumah sembari ngerjain ppt ama yus :D

Sunday, 24 January 2010

Rasa Ini

Sepertinya akhir-akhir ini dan entah sampai kapan, aku akan mulai sering mengigau mengucapkan kata-kata romantis yang atau bisa saja kata-kata romantis itu biasa digunakan untuk orang-orang yang sedang menggombal. Hahahaa...
Secara sadar aku tahu benar bahwa aku bukan termasuk orang yang mudah jatuh cinta, apalagi menyanjung cinta, tapi entah sejak kapan mulainya, aku mulai tidak sadar bahwa aku benar-benar jatuh cinta. Dan rasa itu terus bertambah semakin harinya.
Bohong kalau aku nggak pernah menyukai seseorang sebelum dia, tapi ini adalah pertama kalinya aku merasa kalau aku gila karena menyukainya. Awalnya aku ikuti fikiran-fikiran yang teman-teman aku katakan padaku tentang gejala-gejala anehku ini, yaitu : 'lo baru jadian sih... Jadi masih anget-angetnya'. Well, ternnyata itu hanya awalnya. Toh ada 3 hal yang aku rasa ini terlalu 'berlebihan' untuk seseorang sepertiku.
3 hal itu yaitu:
1. Ada hal 'kecil' yang sampai detik ini buat aku gundah saat aku salah 'menuliskannya'. Padahal itu bukan apa-apa dibandingkan harus menahan rasa rindu untuk ketemu dengannya selama kurang lebih 2 minggu.TERAMAT BUKAN APA-APA!!
2. Rasa rindu/kangen aku sama dia nggak pernah cukup meskipun aku sudah mengucapkannya atau bahkan sedang bersamanya pun aku masih merasa kangen, malah terus membengkak. Am I normal or not? I don't know... Dan pastinya lagi, rasa ini semakin menggila.
3. Dari dua diatas, yang paling aku nggak suka adalah yang terakhir ini. Aku akan sulit berfikir jernih kalau dia nggak ada di dekat aku. I tell the truth! Dan ini mengganggu teramat sangat! Karena saat rasa ini muncul, maka yang ada di kepalaku isinya hanya dia, dia, dan dia. Alhasil, sedikit kesalahan yang aku buat sendiri malah berujung padanya. It's not fair huh? Tapi ini beneran terjadi and I hate this feelin when it came >_<

Hahh... You know what, ini nggak jauh berbeda dengan lari sprint! Capenya luar biasa! Tapi rasa cape disini bukan rasa menyerah, tapi karena harus menumpuk semua rasa sayang dan rindu yang terus menerus membengkak secara bersamaan.
Anyway, are you understand about what I was talk? Hahahaa.. Buat yang sedang kasmaran mungkin mengerti dengan apa yang aku ucapkan, yang aku tulis di post ini, tapi untuk yang tidak (dibaca *belum) sedang kasmaran mungkin tulisan aku ini terkesan 'berlebihan' dalam mengungkapkan sesuatu atau mungkin malah berfikir apa yang aku tulis adalah gejala cinta buta. NO! Aku masih sadar, yah.. walaupun nggak 100%, tapi aku sadar! Buktinya aku masih bisa menjabarkan hal-hal apa saja yang membuat aku menggila karena rasa ini. Hohoho.. :D